Makalah Model Karyawisata Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menulis Puisi Bebas

Makalah Model Karyawisata Sebagai Salah Satu Alternatif  untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menulis Puisi Bebas

oleh :

Dindin Syahbudin, M.Pd.

(guru bahasa Indonesia)

BAB I

PENDAHULUAN

Mata pelajaran bahasa Indonesia termasuk salah satu mata pelajaran penting yang harus dikuasai oleh para siswa. Ruang lingkup mata pelajaran bahasa Indonesia mencakup kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra. Kedua kemampuan itu meliputi empat aspek, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut terintegrasi dalam setiap pembelajaran bahasa Indonesia.

Menulis sebagai salah satu keterampilan berbahasa baru dipelajari atau dikuasai oleh siswa setelah ia menguasai tiga keterampilan berbahasa lainnya. Artinya, menulis merupakan keterampilan berbahasa terakhir yang dikenal dan dipelajari siswa.

Pembelajaran menulis sastra seyogianya menjadi pembelajaran yang dulce et utille, menyenangkan dan bermanfaat bagi siswa. Namun realitasnya, sebagian siswa memandang pembelajaran menulis sastra seolah-olah momok yang menakutkan. Mereka kebingungan kalau ditugasi hal-hal yang berhubungan dengan menulis sastra, misalnya menulis puisi.

Padahal berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VIII semester 2, terdapat standar kompetensi menulis sastra yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas. Kompetensi dasarnya adalah: kesatu, menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai; kedua, menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Hakikat Pembelajaran Puisi

1. Pengertian Pembelajaran

Gagne dalam Dimyati mengatakan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks. Hasil Belajar merupakan kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.

Timbulnya kapabilitas tersebut adalah dari proses pembelajaran. Pada akhir dari suatu proses pembelajaran, siswa memperoleh hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar.

Dari sisi guru, tindak hasil mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya penggal dan puncak proses belajar (Dimyati, 2002 : 3).

Guru sebagai bagian utama dalam pembelajaran berlaku sebagai pendidik dan pengajar dapat :

a. merekayasa pembelajaran yang dilakukan berdasarkan kurikulum yang berlaku.

b.  menyusun desain instruksional untuk membelajarkan siswa.

3

c. menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.

d.  bertindak mengajar di kelas dengan maksud membelajarkan siswa. Dalam tindakan tersebut, guru menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar.

Siswa sebagai pembelajar di sekolah memiliki kepribadian, pengalaman, dan tujuan. Ia mengalami perkembangan jiwa, sesuai asas emansipasi diri menuju keutuhan dan kemandirian.

Siswa bertindak belajar, artinya mengalami proses dan meningkatkan kemampuan mentalnya.

2. Pengertian Puisi

Karya sastra secara umum bisa dibedakan menjadi tiga: puisi, prosa, dan drama. Secara etimologis istilah puisi berasal dari kata bahasa Yunani poesis, yang berarti membangun, membentuk, membuat, menciptakan. Sedangkan kata poet dalam tradisi Yunani Kuno berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. (http://abdurrosyid.wordpress.com).

Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan –poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

Menurut Vicil C. Coulter, kata poet berasal dari kata bahasa Gerik yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Gerik, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka pada dewa-dewa. Dia adalah orang yang mempunyai penglihatan yang tajam, orang suci, yang sekaligus seorang filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi (Situmorang, 1980:10).

Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. (Situmorang, 1980:10).

Ada beberapa pengertian lain. Menurut Kamus Istilah Sastra (Sudjiman, 1984), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

Putu Arya Tirtawirya (1980:9) mengatakan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.

Ralph Waldo Emerson (Situmorang, 1980:8) mengatakan bahwa puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.

William Wordsworth (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah peluapan yang spontan dari perasaan-perasaan yang penuh daya, memperoleh asalnya dari emosi atau rasa yang dikumpulkan kembali dalam kedamaian.

Percy Byssche Shelly (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah rekaman dari saat-saat yang paling baik dan paling senang dari pikiran-pikiran yang paling senang.

Watt-Dunton (Situmorang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekpresi yang kongkret dan yang bersifat artistik dari pikiran manusia dalam bahasa emosional dan berirama.

Lescelles Abercrombie (Sitomurang, 1980:9) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif, yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang serta bermanfaat.

Puisi adalah karya tulis hasil perenungan seorang penyair atas suatu keadaan atau peristiwa yang diamati,dihayati,atau dialaminya. Cetusan ide yang berasal dari peristiwa atau keadaan itu dikemas oleh seorang penyair kedalam bahasa yang padat dan indah.Pembaca atau penikmatnya lalu merasakannya sebagai sebuah karya tulis yang mengandung keindahan dan pesan”. Puisi dapat dinikmati melalui membaca atau mendengarkannya. (http://gozaimatsubayu.blogspot.com)

Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:6) mengumpulkan definisi puisi yang pada umumnya dikemukakan oleh para penyair romantik Inggris sebagai berikut.

(1)   Samuel Taylor Coleridge mengemukakan puisi itu adalah kata-kata yang terindah dalam susunan terindah. Penyair memilih kata-kata yang setepatnya dan disusun secara sebaik-baiknya, misalnya seimbang, simetris, antara satu unsur dengan unsur lain sangat erat berhubungannya, dan sebagainya.

(2)   Carlyle mengatakan bahwa puisi merupakan pemikiran yang bersifat musikal. Penyair menciptakan puisi itu memikirkan bunyi-bunyi yang merdu seperti musik dalam puisinya, kata-kata disusun begitu rupa hingga yang menonjol adalah rangkaian bunyinya yang merdu seperti musik, yaitu dengan mempergunakan orkestra bunyi.

(3)   Wordsworth mempunyai gagasan bahwa puisi adalah pernyataan perasaan yang imajinatif, yaitu perasaan yang direkakan atau diangankan. Adapun Auden mengemukakan bahwa puisi itu lebih merupakan pernyataan perasaan yang bercampur-baur.

(4)   Dunton berpendapat bahwa sebenarnya puisi itu merupakan pemikiran manusia secara konkret dan artistik dalam bahasa emosional serta berirama. Misalnya, dengan kiasan, dengan citra-citra, dan disusun secara artistik (misalnya selaras, simetris, pemilihan kata-katanya tepat, dan sebagainya), dan bahasanya penuh perasaan, serta berirama seperti musik (pergantian bunyi kata-katanya berturu-turut secara teratur).

(5)   Shelley mengemukakan bahwa puisi adalah rekaman detik-detik yang paling indah dalam hidup. Misalnya saja peristiwa-peristiwa yang sangat mengesankan dan menimbulkan keharuan yang kuat seperti kebahagiaan, kegembiraan yang memuncak, percintaan, bahkan kesedihan karena kematian orang yang sangat dicintai. Semuanya merupakan detik-detik yang paling indah untuk direkam.

Dari definisi-definisi di atas memang seolah terdapat perbedaan pemikiran, namun tetap terdapat benang merah. Shahnon Ahmad (dalam Pradopo, 1993:7) menyimpulkan bahwa pengertian puisi di atas terdapat garis-garis besar tentang puisi itu sebenarnya. Unsur-unsur itu berupa emosi, imajinas, pemikiran, ide, nada, irama, kesan pancaindera, susunan kata, kata kiasan, kepadatan, dan perasaan yang bercampur-baur.

B. Hakikat Menulis Puisi

1.    Pengertian Menulis Puisi

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang harus dilatihkan guru kepada siswa. Mampu berbahasa berarti mampu memilih kata secara tepat untuk menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam lambang bahasa serta kata. Hal ini merupakan modal utama seseorang ketika menulis. Sayangnya, menulis merupakan keterampilan yang paling sulit dipelajari siswa dan diajarkan guru sehingga tidak jarang ditemukan dalam pembelajaran menulis, guru lebih banyak memberikan teori menulis daripada praktik menulis (Alwasilah, 2001: 2).

2.    Tujuan Menulis Puisi

Orang menulis  puisi  selain memberikan kenikmatan seni, juga memperkaya kehidupan batin, menghaluskan budi, bahkan juga sering membangkitkan semangat hidup yang menyala, dan mempertinggi rasa ketuhanan dan keimanan (Pradopo, 2007: vi). Dengan bahasa yang simbolis, konotatif, dan padat, semua gagasan, inspirasi, pengetahuan serta hal lain dapat diungkapkan dengan singkat, padat, menarik, serta bermanfaat bagi pembaca.

Tujuan pembelajaran menulis puisi di sekolah agar siswa terampil menuangkan  pengetahuan, gagasan, pendapat, pesan, saran, pengalaman, peristiwa, serta permasalahan lainnya yang disampaikan melalui puisi.

Kompetensi dasar menulis puisi bebas dengan menggunakan pilihan kata yang sesuai dan menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan merupakan kompetensi dasar disampaikan di sekolah. Pengetahuan dan keterampilan bagaimana menciptakan puisi yang kaya akan pilihan kata yang sesuai, persajakan, serta keindahan bahasa lainnya, harus mereka pahami sepenuhnya.

3.    Contoh Penggalan Kalimat Dalam Pembelajaran Puisi

Puisi Perjuangan : Pertempuran di Medan Laga. Puisi Percintaan : “Untukmu Kekasihku”. Puisi Balada : “Kisah Penjual Telur” “Pahlawan, Kau berjuang dengan penuh semangat membara, bergerilya untuk…..”
Kekasihku, sedang apakah kau di sana saat ini? Aku rindu,sayang., aku rindu…. “Telur-telur, telur………” begitulah setiap hari aku menjajakan ….. Bom-bom meledak dengan dahsyatnya.senapan pun meletus melepaskan.. Kekasihku, aku cinta kamu saying. Aku rindu kamu… aku ingin… Melihat telurku habis terjual, tiap pagi..sore…aku bawa… Senapan di kanan, keris di kiri… berselempang semangat yang tak pernah mati. Aku mau terus …  Memelukmu kekasihku , aku ingin mendampingimu.sambutlah aku sayang dan ini kubawakan.. Bakul tempat telurku..tiap hari kugendong. Telur-telur…kuberjalan dan
Menyerang…serbuuu,serang, aku tak peduli lawan seratus kali banyaknya….aku akan terus berjuang demi… Kamu sayangku…, aku rela apa saja.demi cintaku..rinduku..sayangku…apapun kan kulakukan walaupun harus…” Melihat ayamku bertelur.aku ingin ayamku bertelur banyak, dan terus bertelur demi
Bangsa dan Negara tercinta, kurela mati, kurela menderita, kurela….yang penting… Aku di sisimu sayang jangan kau gelisah. Jangan kau risau. Aku kan tetap mendampingingi..  Ayam-ayamku, kuperhatikan pantat ayamku saat akan bertelur. Kutengok dan… Kutembak dengan ganas lawan-lawanku hingga jatuh bergelimpangan, mengerang, kesakitan dan Kupeluk dengan mesra, aku ingin terus memelukmu wahai..Ayam-ayamku.., demi  Masa depan kita sayang, aku ingin hidup bersamamu dan Tetap bertelur. Berjuang untuk mencapai Kebahagiaan bersama anak-anak Ayamku, untuk Mencapai kemerdekaan Ku ingin tetap bersamamu Wahai ayam dan telur-telurkuuuuuuuuuu. (http://aakdidik-puisi.blogspot.com)

BAB III

PEMBAHASAN

A. Hasil Temuan

Salah satu aspek yang diajarkan dalam pembelajaran sastra adalah menulis puisi. Dalam pembelajaran menulis puisi, siswa diharapkan  mampu menuliskan apa yang dirasa, atau apa yang dipikirkan dalam bahasa yang indah yang mengandung bahasa kiasan, dan berkonotasi. Kemampuan menulis puisi merupakan salah satu materi pembelajaran menulis sastra yang diajarkan di kelas VIII (http://karya-ilmiah.um.ac.id).

12

Gaung kegagalan pengajaran apresiasi sastra di sekolah sudah lama terdengar. Banyak pengamat menilai pengajaran apresiasi sastra selama ini berlangsung monoton, tidak menarik, bahkan membosankan. Siswa tidak diajak untuk menjelajahi dan menggauli keagungan nilai yang terkandung dalam teks sastra, tetapi sekadar dicekoki dengan pengetahuan-pengetahuan tentang sastra yang bercorak teoretis dan hafalan. Mereka tidak diajak untuk mengapresiasi teks-teks sastra yang sesungguhnya, tetapi sekadar menghafalkan nama-nama sastrawan berikut hasil karyanya. Dengan kata lain, apa yang disampaikan guru dalam pengajaran sastra barulah kulit luarnya saja, sehingga peserta didik gagal menikmati “lezat”-nya isi dan aroma kandungan nilai dalam karya sastra. Kondisi pengajaran sastra yang semacam itu tidak saja memprihatinkan, tetapi juga telah “membusukkan” proses pencerdasan emosional dan spiritual siswa.

Pengajaran apresiasi puisi pun dinilai tak luput dari situasi semacam itu. Pengajaran apresiasi puisi baru sebatas menyajikan kulitnya saja; seperti pengertian tentang diksi, rima, pencitraan, tema, atau pesan moral; belum menukik pada upaya untuk menemukan keagungan nilai dan nilai keindahan yang terkandung di dalamnya. Tidak heran kalau pengajaran apresiasi puisi belum banyak berkiprah dalam membentuk watak dan kepribadian siswa. Dari tahun ke tahun, pengajaran apresiasi puisi tak lebih dari sebuah rutinitas pengajaran untuk memenuhi tuntutan kurikulum belaka; belum memberikan inspirasi kepada siswa didik untuk menjadi manusia yang berbudaya, yakni manusia yang memiliki sikap responsif terhadap nilai-nilai moral dan keluhuran budi.

Salah satu persoalan klasik yang sering dituding menjadi penyebab kurang menariknya pengajaran apresiasi puisi adalah pemilihan bahan ajar. Bahan ajar sekadar diambil dari buku teks yang belum tentu cocok dengan tingkat kemampuan berbahasa, perkembangan jiwa, dan latar belakang budaya siswa didik. Dalam kondisi seperti ini, guru bukanlah satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab terhadap kegagalan apresiasi puisi di sekolah. Selain, terbatasnya ketersediaan buku sumber di perpustakaan sekolah dan sistem penilaian yang kurang sahih, kurikulum juga dianggap sebagai faktor yang tak dapat diabaikan. Untuk itu, perlu ada upaya serius untuk meniyasati agar kurikulum dan apresiasi puisi bisa ”dikawinkan” ke dalam sebuah ”rumah” pengajaran apresiasi puisi yang inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. (http://mgmpbismp.co.cc)

Untuk itu, dibutuhkan strategi pembelajaran yang memudahkan siswa dalam menulis puisi. Ketika proses belajar mengajar menulis puisi bebas dilaksanakan di dalam ruangan kelas, para siswa mengalami kesulitan karena susah untuk mendapatkan inspirasinya. Kemungkinan penyebabnya adalah terbatasnya ruang gerak mereka serta kejenuhan belajar karena PBM hampir selalu dilaksanakan di dalam kelas.

Pembelajaran menulis puisi bebas pun tidak selesai dalam waktu dua kali pertemuan. Para siswa meminta menulis puisi bebas itu dilanjutkan di rumah. Hasilnya, sebagian mengumpulkan dan sebagian tidak. Puisi yang terkumpul pun setelah dievaluasi ternyata sebagian merupakan hasil plagiat, baik dari rubrik puisi media massa maupun dari buku-buku. Dan yang mengumpulkan pun hasilnya tidak begitu memuaskan. Hanya sebagian kecil saja yang hasilnya sudah baik. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan dan perlu tindakan yang serius dari guru. Hal ini menyebabkan nilai-nilai mereka banyak yang di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Padahal, menurut Mulyasa (2004: 87) kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) siswa terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan perilaku yang positif pada diri siswa seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%).

Masalah ini perlu segera dipecahkan karena pembelajaran menulis puisi bebas dipandang penting sebab berhubungan dengan apresiasi sastra, khususnya menulis teks sastra. Menulis teks sastra berarti memproduksi sastra. Hal ini berarti juga melatih siswa untuk mengeksplorasi segala kompetensi yang dimilikinya berdasarkan pengetahuan serta pemahaman kebahasaannya dan pengalamannya yang dapat dijadikan modal dasar  dalam menulis kreatif puisi.

Dengan pembelajaran ini pula diharapkan kepekaan sosial siswa menjadi terasah. Hal ini sejalan dengan pendapat Eko & Dian (2003: 15) yang mengungkapkan bahwa beberapa mata pelajaran harus diarahtujukan bagi keperluan memperkaya ruang dalam siswa. Dan mata pelajaran seperti sastra mempunyai potensi untuk itu. Dengan demikian, sekolah tidak berubah menjadi peternakan yang menghasilkan orang-orang serakah dan penuh dengan dendam.

B. Pemecahan Masalah

Agar siswa dapat menciptakan teks sastra dengan baik, dalam hal ini penciptaan puisi, perlu suasana dan lingkungan yang mendukung serta dapat memberi inspirasi kepada mereka. Untuk keperluan tersebut, guru memodifikasi lingkungan belajar dengan cara mengajak siswa belajar di luar kelas atau berkaryawisata ke suatu tempat yang ada di lingkungan sekolah yang memungkinkan siswa terinspirasi untuk menulis kreatif puisi.  Hal ini didasarkan pada teori yang mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran, guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan, dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001 dalam Mukti & Sayekti, 2003).

Sementara itu, Sujana (1991: 87) menyatakan bahwa karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar.

Oleh sebab itu, guna mencari solusi yang tepat bagi permasalahan yang dihadapi, penulis menyusun makalah dengan judul ” Model Karyawisata Sebagai Salah Satu Alternatif Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Dalam Menulis Puisi Bebas”.

Bila dicermati, begitu banyak karya sastra bermutu tinggi yang dihasilkan melalui karyawisata. Raja penyair angkatan Pujangga Baru, Amir Hamzah, yang sempat berekreasi ke pantai-pantai di Jakarta, berhasil mempuisikan ”Teluk Jayakarta”. Setelah Idrus berkaryawisata ke sebuah pasar malam pada masa pendudukan Jepang, ia juga langsung menulis cerpen ”Pasar Malam Zaman Jepang”. Chairil Anwar (pelopor Angkatan ’45 dalam bidang puisi) pun tak mau ketinggalan, ia jalan-jalan dari Kerawang hingga Bekasi ketika masa perang kemerdekaan dan terciptalah puisi ”Krawang-Bekasi”. Puisi ini diciptakannya sebagai tanda setia, meratapi kematian kawan-kawannya yang rela mati muda demi kepentingan tanah air, nusa, dan bangsa. Puisi ”Krawang-Bekasi” kini diabadikan dengan tinta emas di Monumen Yogya Kembali. Sementara itu, Toto Sudarto Bachtiar (H.B. Jassin menjulukinya Penyair Ibu Kota Senja) yang gemar main-main di kota-kota besar seperti Jakarta, bertemu dengan gadis kecil berkaleng kecil, terbitlah puisinya yang begitu menggugah dan menyentuh, ”Gadis Peminta-minta”.

Lain lagi dengan Ajip Rosidi yang khatam menyusuri semua daerah di Jawa Barat, ia mendapat inspirasi untuk mencipta puisi yang sarat akan kecintaan terhadap tanah kelahirannya, puisinya itu diberi judul ”Tanah Sunda”. Sementara itu, si Burung Merak dari Yogyakarta, W.S. Rendra, yang sering mondar-mandir ke Jakarta, berhasil mempuisikan ”Ciliwung yang Manis”. Demikian juga ketika ia melakukan perjalanan ke Banten, ia merasa terkesan dengan masyarakat di sana, maka terciptalah sebuah puisi ”Balada Orang-orang Rangkasbitung”. Kesemua itu adalah contoh-contoh kecil saja dari sekian banyak contoh yang bisa diungkap sebagai bukti. Pendek kata, bahwa karyawisata bisa menginspirasi pengarang atau penyair dalam penciptaan karya sastra adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan.

Bagi guru, asumsi siswa mengenai karyawisata dapat dijadikan peluang yang baik karena karyawisata bisa saja diaplikasikan sebagai metode mengajar. Jika hal ini dilakukan, berarti guru telah memodifikasi salah satu unsur dari lima unsur kegiatan mengajar yaitu modifikasi lingkungan. Hal ini sejalan dengan pendapat para ahli yang mengatakan bahwa guru bisa melakukan modifikasi terhadap lima unsur kegiatan mengajar, yaitu materi pelajaran, proses, produk, lingkungan, dan evaluasi (Howard, 1999; Weinbrenner, 2001 dalam Mukti & Sayekti, 2003).

Lebih lanjut para ahli tersebut berpendapat bahwa iklim belajar di kelas merupakan faktor yang berpengaruh langsung pada gaya belajar dan minat siswa. Sikap gurulah yang sangat menentukan iklim di dalam kelas. Lingkungan belajar yang sesuai adalah mengandung kebebasan memilih dalam satu disiplin; kesempatan untuk mempraktikkan kreativitas; interaksi kelompok; kemandirian dalam belajar; kompleksitas pemikiran; keterbukaan terhadap ide; mobilitas gerak; menerima opini; dan merentangkan belajar hingga ke luar ruang kelas.

Untuk itu, guru harus mampu membuat pilihan-pilihan yang sesuai dari apa yang akan diajarkan, bagaimana mengajarkannya, materi dan sumber daya apa yang perlu disediakan, hingga bagaimana mengevaluasi pertumbuhan belajar siswa.

Dengan tegas, Wells (dalam DePorter et al., 2005: 29) menyatakan bahwa jika anak-anak diharapkan melakukan transisi dengan mudah dan percaya diri, mereka haruslah mengalami lingkungan baru sekolah sebagai sesuatu yang menggairahkan dan menantang.

Menurut Suwarna et al. (2006: 114), metode karyawisata merupakan cara yang dilakukan guru dengan mengajak siswa ke objek tertentu untuk mempelajari sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran di sekolah. Objek karyawisata adalah tempat atau objek tertentu yang memiliki nilai akademis, sehingga dapat difungsikan sebagai laboratorium, sebagai tempat untuk memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang hal-hal yang memang benar-benar terjadi. Objek karyawisata tersebut antara lain: museum, bank, perusahaan, pasar, pengadilan, candi, pusat kerajinan, pelabuhan, pusat peninggalan, stadion, dan lain-lain.

Johan Amor Comenius (dalam Hidayat & Rahmina) mengemukakan bahwa dalam alam lebih banyak yang dapat kita amati daripada yang dapat diceritakan oleh buku dan pelajaran serupa. Hal ini lebih berhasil dan menggembirakan (1991: 123).

Mengenai metode karyawisata (field-trip), Sujana (1991: 87-88) menyatakan bahwa karyawisata dalam arti metode mengajar mempunyai arti tersendiri yang berbeda dengan karyawisata dalam arti umum. Karyawisata di sini berarti kunjungan ke luar kelas dalam rangka belajar. Contohnya, mengajak siswa ke Balai Desa untuk mengetahui jumlah penduduk dan susunannya pada desa tersebut, selama satu jam pelajaran.

Jadi, karyawisata di atas tidak mengambil tempat yang jauh dari sekolah dan tidak memerlukan waktu yang lama. Karyawisata dalam waktu yang lama dan tempat yang jauh disebut study tour.

Adapun langkah-langkah pokok dalam metode karyawisata sebagai berikut.

  1. Perencanaan karyawisata
    1. Merumuskan tujuan karyawisata.
    2. Menetapkan objek karyawisata sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.
    3. Menetapkan lamanya karyawisata.
    4. Menyusun rencana belajar bagi siswa selama karyawisata.
    5. Merencanakan perlengkapan belajar yang harus disediakan.
  2. Langkah Pelaksanaan karyawisata

Setelah perencanaan dirumuskan, selanjutnya dilaksanakanlah PBM di lokasi karyawisata dengan bimbingan guru. PBM ini harus diarahkan pada tujuan yang telah ditetapkan pada fase perencanaan di atas.

  1. Tindak lanjut

Pada akhir karyawisata siswa melaporkan hasilnya, baik lisan maupun tertulis, yang merupakan inti masalah yang telah dipelajari pada waktu karyawisata.

Modifikasi lingkungan dilakukan untuk mengatasi kejenuhan belajar siswa karena selama ini PBM hanya dilakukan di dalam kelas saja. Modifikasi lingkungan berupa karyawisata dimaksudkan agar siswa dapat belajar di luar kelas, di suatu tempat yang baru, nyaman, luas, bebas, dan sangat memungkinkan untuk dijadikan tempat belajar. Sepanjang pengetahuan peneliti, kecuali pada mata pelajaran olahraga, PBM dapat dikatakan hampir selalu dilakukan di dalam kelas. Padahal, untuk PBM bahasa Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan karang-mengarang memerlukan suasana yang cocok serta menyenangkan bagi siswa.

Dengan demikian, agar siswa dapat menciptakan teks sastra dengan baik, dalam hal ini menulis puisi bebas, perlu suasana dan lingkungan belajar yang mendukung serta dapat memberi inspirasi kepada mereka.

Dengan karyawisata, diharapkan ruang gerak siswa menjadi bebas, konsentrasi belajar menjadi terfokus karena objek yang konkret, serta kejenuhan belajar menjadi teratasi karena lingkungan belajar yang baru dan menyenangkan.

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Pengalaman adalah guru yang paling baik. Untuk mendapat pengalaman itu salah satu caranya adalah dengan berkaryawisata. Karyawisata dapat dijadikan metode dalam PBM. Metode karyawisata dapat diaplikasikan pada mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya yang menyangkut karang-mengarang baik prosa maupun puisi. Pemilihan objek wisata hendaknya mempertimbangkan segi kenyamanan, keamanan, dan kesesuaian dengan tujuan yang ingin dicapai serta materi pelajaran.

Sesudah melalui serangkaian siklus dalam kegiatan penelitian tindakan kelas, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa melalui aplikasi metode karyawisata pada pembelajaran menulis puisi bebas, maka siswa menjadi lebih mudah mendapat inspirasi untuk menciptakan puisi. Selain itu, kemampuan membangun setiap larik serta bait pun mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Ditambah lagi dengan penggunaan diksi, rima, serta majas yang variatif sehingga menghasilkan karya puisi yang rata-rata tidak mengecewakan.

BSaran

17

Berdasarkan penjelasan dalam makalah  ini, beberapa saran yang dapat disampaikan penulis sebagai berikut.

  1. Untuk pembelajaran mengarang puisi, syair, atau pengalaman pribadi, sebaiknya para guru mencoba metode karyawisata karena metode ini cocok sekali untuk pembelajaran tersebut.
  2. Ketika mengaplikasikan metode karyawisata, sebaiknya siswa diberi kebebasan untuk membawa makanan dan minuman ringan karena ternyata bahwa belajar di luar kelas/sekolah berbeda situasinya dengan di dalam kelas.
  3. Produk berupa karya siswa hendaknya dipamerkan di dinding dalam kelas yang bersangkutan untuk dievaluasi oleh teman sekelasnya. Karya terbaik mereka pun bisa juga ditempelkan di majalah dinding.
  4. Semua produk karya siswa hendaknya dibuat antologi sebagai bahan bacaan alternatif di perpustakaan.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, A. Chaedar. 2001. ”Pemutakhiran Metode Pembelajaran Bahasa”. Materi Seminar Sehari Memperingati Bulan Bahasa. STKIP Garut: tidak diterbitkan.

Depdikbud. 1995. Kurikulum Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Petunjuk Teknis. Mata Pelajaran: Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Depdikbud. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

DePorter, Bobby et al. 2005. Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.

Dimyati & Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud dan Rineka Cipta

Eko & Dian. 2003. Sastra dan Ruang Pendidikan Kita. Majalah Gerbang Edisi 4 Tahun III Oktober 2003, halaman 16-24.

Hidayat, K. & Rahmina, I. 1991. Perencanaan Pengajaran Bahasa Indonesia. Bandung: Binacipta.

Husen, H. Akhlan et al. 1997. Telaah Kurikulum dan Buku Teks Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Mukti, A. & Sayekti, A. 2003. Pengajaran Berdiferensiasi: Suatu Pendekatan untuk Anak Berbakat. Majalah Gerbang Edisi 4 Tahun III Oktober 2003, halaman 36-38.

Mulyasa, E. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2007. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sugono, Dendy. 2003. Buku Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Suhendar & Supinah, P. 1993. Pendekatan Teori Sejarah dan Apresiasi Sastra Indonesia. Bandung: Pionir Jaya.

Sujana, Nana. 1991. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru.

Suwarna et al. 2006. Pengajaran Mikro: Pendekatan Praktis Menyiapkan Pendidikan Profesional. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Tim. (TT). Materi Inti Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: CV Ricardo

http://abdurrosyid.wordpress.com. /2007/10/ Puisi, Pengertian, dan Unsur-Unsurnya. Diunduh Kamis 29 Oktober 2009.

http://gozaimatsubayu.blogspot.com/2007/10/ pengertian, puisi. html. Diunduh Kamis 29 Oktober 2009

http://aakdidik-puisi.blogspot.com/2008/05/ Bahan Pembelajaran Puisi html. Diunduh Kamis 29 Oktober 2009

http://karya-ilmiah.um.ac.id/index.php/ sastra indonesia /article/view/295.  Diunduh Kamis 29 Oktober 2009.

http://mgmpbismp.co.cc/2009/03/22/ puisi-sebagai-bahan-ajar-antara-tuntutan-kurikulum-dan-kepentingan-apresiasi/ Diunduh Kamis 29 Oktober 2009.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s